Setelah pertandingan Narendra, sorakan penonton menggema kembali saat Banu berdiri di tengah arena, tubuhnya besar dan kokoh seperti batu karang. Ia memutar tombaknya dengan gerakan penuh percaya diri, tatapannya tidak pernah lepas dari Lynx yang terlihat tenang di sisi lain.

"Kau tidak pantas berada di sini," ejek Banu, suaranya menggema hingga ke sudut arena. "Lihat dirimu. Tubuh kecil, kulit halus. Apa kau yakin tidak salah tempat?"

Lynx tetap diam, hanya mengangkat alis dengan santai. "Mulailah bertarung. Kita lihat siapa yang salah tempat."

Kemarahan terlihat di wajah Banu. Ia menyerang lebih dulu, mengayunkan tombaknya dengan kekuatan penuh ke arah Lynx. Serangan itu cepat, tetapi Lynx menghindar dengan gerakan halus, seolah-olah angin sendiri yang mengarahkannya.

Banu menggeram, berputar dengan cepat, mencoba menyerang sisi kanan Lynx. Namun lagi-lagi Lynx melangkah mundur dengan kecepatan yang membuat serangan itu meleset.

"Kau hanya bisa berlari, ya?" ejek Banu, menahan tombaknya di depan. "Apa kau takut padaku?"

Lynx tersenyum tipis. "Aku hanya menunggumu menunjukkan sesuatu yang layak untuk ditakuti."

Sorakan penonton membelah udara, sebagian mengejek Lynx, sebagian lainnya mulai tertawa pada Banu yang frustasi.

Banu menyerang lagi, kali ini dengan serangkaian gerakan tajam. Tombaknya berputar seperti baling-baling, menciptakan tekanan angin yang membuat debu di arena beterbangan. Tapi Lynx terus menghindar, langkahnya seperti tarian yang tidak pernah terputus.

"Kau bermain-main denganku!" Banu meraung, urat-urat di lehernya menonjol.

Lynx berhenti sejenak, berdiri dengan tenang, dan menatap Banu. "Kalau kau tidak bisa memukulku, bagaimana kau berharap bisa memimpin seluruh suku Raksa?"

Para penonton kaget melihat pertandingan tersebut. Lynx yang dianggapnya lemah, ternyata mampu menghindari semua serangan ganas dari Banu.

Arkha yang menyaksikan pertandingan itu hanya tersenyum sinis, " Dasar Banu bodoh, melawan orang lemah seperti itu saja tidak bisa."

Sementara itu Narendra dan Kanha kagum melihat betapa mudahnya Lynx menghindar dari semua serangan Banu. "Kak Lynx memang hebat." Puji Kanha tiada henti.

Ayah Rira pun tidak menduga jika Lynx memilki kemampuan menghadapi Banu. Dia awalnya mengira Lynx hanya mampu mengobati, dan Narenda yang mahir dalam pertarungan.

Kemarahan Banu memuncak. Mendengar suara dari para penonton membuatnya tidak dapat menahan diri. Ia menenggak cairan dari botol kecil yang terselip di pinggangnya. Tubuhnya bergetar, dan dalam beberapa detik, otot-ototnya membengkak. Matanya berubah merah menyala, dan nafasnya seperti geraman binatang buas.

"Kau selesai!" Banu berteriak, menyerang dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi dari sebelumnya.

Lynx akhirnya mengangkat tangan, menangkis tombak Banu dengan mudah menggunakan lengan bawahnya. Suara benturan terdengar keras, membuat beberapa penonton terkejut.

"Kekuatan tambahan ini menarik," komentar Lynx dengan santai. "Tapi kau tetap tidak bisa memukulku."

Banu menyerang dengan lebih buas, tombaknya berayun-ayun seperti angin badai. Kali ini, Lynx tidak hanya menghindar. Ia mulai menangkis, membuat gerakan kecil yang cukup untuk mengalihkan arah tombak. Setiap kali senjata itu hampir mengenainya, Lynx memutar tubuhnya dengan kecepatan luar biasa, membuat serangan Banu menjadi sia-sia.

Banu mendengus keras, lalu mengayunkan tombaknya dengan seluruh kekuatan ke arah kepala Lynx. Tapi Lynx merunduk, memutar tubuh, dan menangkap ujung tombak itu dengan satu tangan. Dengan satu gerakan ringan, ia mendorong Banu mundur beberapa langkah.

"Sudah cukup," kata Lynx, nadanya datar. "Kau tidak akan menang dengan cara ini."

Para penonton saling berdiskusi menyaksikan pertandingan tersebut. "Ternyata anak muda itu tetap bisa melawan Banu meskipun sudah menggunakan obat penguat," kata salah satu penonton.

Sementara itu Banu belum menyerah, dia melompat mundur, nafasnya berat, tetapi ia tetap berdiri. Matanya menyala penuh kebencian, tetapi sebelum ia bisa menyerang lagi, sebuah sinyal dari anak buahnya yang berdiri di tepi arena menarik perhatiannya.

Banu menyeringai, tatapannya penuh kemenangan.

"Kalau begitu, kau mungkin mau menyerah sekarang, jika kau peduli pada gadis itu."

Lynx mengernyit, tatapannya menyipit. "Apa maksudmu?"

Banu tertawa kecil, menunjuk ke tepi arena. "Rira ada di tangan anak buahku sekarang. Kalau kau tidak menyerah, aku tidak akan segan-segan membunuhnya."

Kembali ke beberapa waktu sebelumnya, saat Lynx sedang bertarung melawan Banu, di tepi arena, anak buah Banu menyeret Rira ke luar kerumunan, memanfaatkan perhatian penonton yang terfokus pada pertandingan. Dua pria besar mencengkeram lengan Rira, sementara satu lagi berdiri di belakang mereka dengan senjata terhunus.

"Lepaskan aku!" teriak Rira, mencoba melawan, tetapi kekuatannya tidak sebanding dengan mereka.

"Diam," gertak salah satu pria, menekankan pisau ke lehernya. "Kau hanya perlu menunggu perintah Banu. Jika dia kalah, kau tahu apa yang akan terjadi."

Rira menggigit bibirnya, rasa marah memenuhi wajahnya. Karena terlalu fokus menyaksikan pertandingan Lynx, dia tidak menyadari ada pergerakan aneh disekitarnya sehingga dia dapat tertangkap dengan mudah. Namun, ia tetap mencoba melawan, menendang kaki salah satu penculiknya. Pria itu menggeram, tetapi menahan diri agar tidak membuat keributan yang menarik perhatian.

"Cukup!" pria di belakang mereka memerintah. "Bawa dia lebih jauh dari sini. Jangan biarkan siapapun melihat."

Rira terus melawan, tetapi akhirnya dipaksa masuk ke area belakang arena, di mana mereka mengikatnya di sebuah pohon besar, menjaganya dengan ketat.

"Aku tidak akan membiarkan kalian lolos dengan ini," kata Rira dengan nada tegas, meskipun suaranya sedikit gemetar.

Pria itu hanya tertawa kecil. "Lihat saja nanti. Setelah Banu menang, kau akan jadi miliknya sepenuhnya."

Kembali di arena, Lynx tetap berdiri dengan tenang meskipun mendengar ancaman Banu. "Kalau begitu, biarkan aku melihat buktinya," katanya dingin.

Banu menggeram, tetapi sorot matanya menunjukkan kemenangan. Ia mengangkat tangan, memberi isyarat kepada anak buahnya, lalu menunjuk ke arah Rira yang terikat di kejauhan.

Lynx mengamati situasi dengan cepat. Ia tahu bahwa Rira dalam bahaya, tetapi ia juga tahu bahwa menyerah bukanlah solusi. Dengan ekspresi tetap tenang, ia membiarkan Banu terus menyerangnya, menunggu saat yang tepat untuk bertindak.

Banu melancarkan serangan-serangan yang semakin brutal. Dengan tubuhnya yang kini diperkuat ramuan, pukulan-pukulannya membuat tanah di bawah mereka bergetar setiap kali menghantam. Lynx terus menghindar dengan gerakan yang nyaris tak terlihat, langkahnya seolah menari di atas angin.

"BERHENTI BERMAIN-MAIN!" teriak Banu, tombaknya berputar dengan kecepatan mengerikan. Ia mengayunkannya dalam lingkaran besar, memaksa Lynx mundur untuk menghindari sapuan senjata itu.

"Kalau kau ingin menang," kata Lynx dengan suara tenang, "kau perlu lebih dari sekadar kekuatan kasar."

Sorakan dari penonton bercampur antara dukungan dan ejekan. Sebagian mulai menganggap pertarungan ini menarik, sementara yang lain mendukung Banu dengan teriakan penuh emosi.

Banu melompat ke arah Lynx, mencoba menghantamnya dengan ayunan tajam tombaknya. Namun, Lynx menangkis serangan itu dengan lengan bawahnya, membuat tombak itu terlempar beberapa meter ke sisi arena.

"Cukup," kata Lynx, tatapannya menjadi serius. "Kau sudah selesai."

Banu menggeram, matanya menatap Lynx dengan penuh kebencian. Namun, ia tetap tidak menyerah. Ia melancarkan serangan menggunakan tangan kosong, pukulan-pukulannya cepat dan bertenaga. Lynx menangkis dengan mudah, tetapi kali ini ia memilih untuk tidak menyerang balik.

Di sudut arena, Narendra dan Kanha menyadari sesuatu yang tidak beres. Lynx meski dapat menghindar namun wajahnya terlihat khawatir. Kanha melihat ke arah tepi kerumunan dan menyadari Rira tidak ada di tempat yang seharusnya.

"Kak Narendra," bisik Kanha, menarik lengan kakaknya. "Kak Lynx bertingkah aneh, Rira juga tidak di sana. Aku pikir dia..."

Narendra mengikuti arah pandangan Kanha, dan wajahnya berubah serius. "Dia dalam bahaya," gumamnya, segera menyadari situasi.

Sementara itu, Lynx tetap bertahan di tengah arena, membiarkan Banu terus menyerangnya. Lynx tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan, meskipun ia sudah menerima beberapa pukulan. Sebenarnya, pukulan-pukulan itu hampir tidak memberikan efek apa-apa pada tubuhnya yang diperkuat kekuatan spiritual.

Dengan penglihatannya yang tajam, dia bisa melihat Kanha dan Narendra sudah mengetahui situasinya dan bergerak untuk menolong Rira.

"Kenapa kau tidak melawan?! Apakah kau takut padaku?!" teriak Banu, frustasi.

"Aku tidak perlu melawan," jawab Lynx, matanya menyipit. "Aku hanya perlu waktu."

Dari kejauhan, Kanha melihat sosok Rira yang diapit oleh dua pria besar di belakang arena. Wajah Rira menunjukkan ketakutan, tetapi ia tetap berusaha melawan. Kanha menggertakkan giginya, lalu berbisik ke Narendra, "Aku akan menolongnya. Aku tidak bisa membiarkan mereka lolos!"

Narendra mencoba menghentikannya, tetapi Kanha sudah berlari cepat melalui kerumunan. "Kanha!" panggil Narendra, tetapi ia tahu adiknya terlalu keras kepala untuk dihentikan.

Di arena, Lynx tetap mengulur waktu, menghindari pukulan-pukulan Banu tanpa banyak usaha. Namun, sorot matanya terus memantau sekitar, berharap tanda dari Kanha bahwa Rira aman.

"Kau hanya seorang pengecut!" raung Banu, memukul tanah dengan kepalan tangannya, menciptakan lubang besar di tanah arena. "Aku akan membuatmu menyesal datang ke sini!"

Lynx hanya tersenyum tipis, bersiap untuk saat yang ia tunggu.

Di belakang arena, Kanha bergerak di antara bayang-bayang, menggunakan tubuh kecilnya untuk bersembunyi dari pandangan para penculik. Dua pria besar berdiri di samping Rira, salah satunya memegang pisau di tangannya.

"Jangan coba-coba melawan," salah satu dari mereka menggeram pada Rira. "Banu akan menang, dan kau akan jadi miliknya. Hentikan perjuangan bodoh ini."

Rira menggertakkan giginya, tetapi ia terikat,  tidak memiliki kekuatan untuk melawan dua pria besar itu. Ia mencoba menarik napas dalam-dalam, menahan rasa takut yang menghantuinya.

Dari semak-semak, Kanha mengamati situasi. Ia menggenggam sebuah batu di tangannya, memikirkan cara untuk mengalihkan perhatian para penculik.

"Ayo, Kanha, kau bisa melakukannya," gumamnya pada dirinya sendiri.

Dengan sekuat tenaga, Kanha melempar batu itu ke arah pohon di dekat mereka. Batu itu mengenai dahan, menciptakan suara keras yang mengejutkan kedua pria tersebut.

"Apa itu?" salah satu dari mereka menoleh tajam ke arah suara.

Kanha segera bergerak, mengambil kesempatan saat mereka lengah. Dengan cepat ia mendekati Rira dan memotong tali yang mengikatnya menggunakan belati kecil yang ia ambil dari sakunya.

"Kanha?" bisik Rira, matanya melebar.


